Mengapa UKM Indonesia = UKM (Usaha Kecil Mungil)
UKM indonesia adalah salah satu penopang perekonomian Nasional
Indonesia. UKM-lah merupakan salah satu pilar yang tahan banting
menghadapi krisis yang pernah melanda perekonomian Indonesia, dan
UKM-lah Juga yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi atas
hutang-hutangnya, ketika perusahaan Besar maupun menengah ambruk ketika
krisis melanda, sehingga hutang – hutangnya sulit untuk dapat dilunasi,
namun hal tersebut tidak berlaku bagi UKM, UKM terus hidup dan tumbuh
ditengah tengah krisis yang melanda.
Namun Nasib UKM secara umum, umumnya hanya sebatas bagaimana UKM
dapat bertahan ditengah-tengah persaingan yang kian ketat. Bukan hanya
persaingan dengan sesama UKM, terkadang persaingan juga dibenturkan
dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki finansial yang tidak
terbatas. Pada tataran persaingan antar UKM, umumnya mereka
berlomba-lomba memberikan harga yang terbaik (baca : murah), terkadang
dengan mengabaikan kualitas, asal murah (dengan harapan banyak pembeli)
membuat persaingan kian hari kian tidak sehat, padahal dengan memberikan
harga murah keuntungan akan kian menipis, dengan menipisnya keuntungan
akan menjadikan semangat kerja akan menurun seiring dengan
turunnya margin keuntungan. Sehingga yang diuntungkan adalah pemodal
besar/ Perusahaan Besar. Dengan besarnya Skala Produksi menjadikan biaya
produksi menjadi kian rendah (economic of scale).
Jadi jika antar UKM bersaing (tidak sehat) siapakah yang paling
diuntungkan ??? jawabannya adalah Perusahaan yang memiliki modal besar
mengapa?
- Dengan adanya pasar-pasar yang dibentuk UKM (melalui sentra Industri Kecil), perusahaan besar tidak repot-repot meriset pasar serta mengedukasi produk. Pemodal besar cukup melihat perkembangan sentra industri, setelah pasar terbentuk, maka dengan mudahnya mereka akan masuk dan bersaing dengan UKM-UKM yang kian hari kian kecil dan mungil (karena sangking banyaknya UKM dan banting-bantingan harga). Salah satu contohnya adalah Sentra Kerajinan Cibaduyut, awal-awalnya dibentuk sentra pengrajin fashion pelakunya adalah UKM, seiring dengan terkenalnya cibaduyut sebagai salah satu ICON kota bandung dengan hasil fashionnya yang murah dan berkualitas berdampak pada kemakmuran bagi UKM dan pengrajin Fashion. Seiring dengan terbentuknya pasar, kalangan bermodal mulai melirik Biz ini, didirikanlah toko-toko tempat display Barang. Awalnya mungkin mengambil barang dari pengrajin setempat, mengingat pemodal besar hanya memikirkan keuntungan belaka, tanpa memikirkan nasib pengrajin maka didatangkanlah produk-produk dari china yang terkenal murah dan fahsionable. Jelas pengrajin tidak dapat bersaing terutama dari segi harga. sehingga kaum pemodallah yang menikmati hasilnya. Ini juga berlaku di Industri makanan dan minuman. contoh yang sedang dan akan mengalami hal serupa adalah Industri Kripik Tempe Sanan (Malang – Jawa Timur) saat ini UKM berlomba-lomba memberikan harga terbaik (baca : Murah) jika hal ini dibiarkan saja tanpa ada solusi yang tepat maka lambat laun sejarah akan terulang.
2, 3 dst akan kami sampaikan di kemudian hari, yang jelas mengenai
Harga (pada jangka panjang pemodal besar akan dapat memberikan harga
yang kopetitif); Kemasan (jelas kemasan pemodal besar akan jauuuuh lebih
cantik, lebih baik dan lebih murah dibanding UKM), penguasaan bahan
baku, promosi, dsb…
Terus, sebenarnya apa sih latar belakang UKM Indonesia umumnya
selalu menjadi Usaha Kecil Mungil. jawabannya adalah keserakahan dan
tidak mau ber korporasi.
Keserakahan, adalah sifat dasar dari manusia, namun di era GAUL
seperti ini keserakahan adalah JADUL. Coba semak disekitar kita, berapa
banyak pengusaha yang sukses, kalo toh ada berapa lama tingkat
kesuksesannya. Umumnya UKM yang merasa dirinya Laris Manis akan dilanda
krisis PD Alay (baca : Percaya Diri Anak Layangan) yang amat tinggi
sehingga ngga kepingen ada perusahaan sejenis yang bisa hidup
berdampingan dengannya. Kalo toh ada harus dibuat merugi atau mati
dengan berbagai macam cara. Sifat kerdil seperti ini membuat
perusahannya akan menjadi Kerdil seperti jiwa UKM tersebut. Hal - hal
seperti inilah yang masih melanda UKM Indonesia
Yang kedua adalah tidak mau berkorporasi (berjamaah), jelas
dengan masih adanya sifat serakah, pengen jadi RAJA, dsb mereka ngga
akan mau berkorporasi, kolaborasi apalagi berjamaah. padahal jika kita
tengok perusahaan perusahaan besar di EROPA, hampir tidak ada yang
namanya tidak berkorporasi. hampir semua industri kecil berkolaborasi
menjadi sesuatu kekuatan yang amat besar
Jadi apa yang harus di lakukan UKM Indonesia agar sejahtera
Jawabannya adalah harus GAUL dan berkorporasi, kita (UKM
Indonesia) harus mulai sadar bahwa hanya dengan bergandengan tanganlah
kita akan menjadi besar. pernah ada seorang kawan dimalang – jawa
timur, kedatangan seorang tamu dari India, singkat cerita dia berminat
akan keripik buah dan tempe dari malang, pesannya tidak
tanggung-tanggung, untuk percobaan saja dia minta 1 container 40″
penuh. karena yang menerima pesanan adalah seorang UKM, maka singkat
cerita order batal karena kapasitas kemampuan produksi tidak dapat
dipenuhi. kalupun dipaksakan mengambil dari UKM yang lain, dapat
dipastikan akan kena complain, sebab tidak adanya kesamaan kualitas
antara UKM yang satu dengan UKM yang lain.
Jadi yang harus dilakukan segera, mari kita UKM yang sejenis
berkumpul dan duduk bersama membahas masa depan kelangsungan hidup
bersama. perlu diadakannya suatu wadah yang dapat menampung
produk-produk anggotanya, perlu adanya kesamaan kualitas produk dan
akhirnya dikemas dengan Brand/Merk Bersama, dan dipasarkan bersama-sama.
Dengan bersatunya UKM – UKM Indonesia yang cerdas, saya yakin
sedikit demi sedikit masalah akan terurai dan pada akhirnya akan
mensejahterakan anggotanya secara berkelanjutan. Sulit memang, namun
hal itu pasti bisa kita wujudkan. dan besar harapan saya
kesatuan-kesatuan unit UKM sukses akan bermula disini, Akhir kata,
semoga kita semua menjadi pelopor dari kebangkitan Korporasi UKM
Indonesia. Semoga Sukses UKM Indonesia
Sumber : www.kemasan.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar